Bukan Cuma Manusia, Robot Juga Bisa Jadi Juri Kecantikan

Pernah ikut ajang atau kontes kecantikan? Siapa yang menjadi jurinya? Ya tentu saja manusia dong masa boneka sih. Eits tunggu dulu, siapa bilang hanya manusia yang bisa jadi juri kecantikan. Jadi siapa dong? Selain manusia, ternyata robot juga bisa jadi juri kecantikan lho. Gak percaya? Mari kita lihat sama-sama artikel di bawah ini.

Kontes Kecantikan Dengan Juri Robot

What? Robot jadi juri kecantikan? Yap, ajang kontes kecantikan memang sangat banyak, seperti misalnya Miss World atau Miss Universe. Biasanya, juri dalam kontes kecantikan adalah manusia. Namun jika jurinya adalah robot, maka kontes kecantikan ini akan menjadi salah satu kontes pertama dan paling unik yang pernah ada.

Di zaman sekarang ini, perlahan-lahan robot sudah mulai memasuki kehidupan manusia. Dengan memanfaatkan teknologi artificial intelligent atau kecerdasan buatan yang dibenamkan pada robot. Bedanya saat memasukkan aplikasi pendaftaran, peserta yang diminta mengirimkan foto, wajahnya akan dianalisis oleh robot yang kemudian memutuskan apakah peserta tersebut layak untuk ikut dalam kontes atau tidak.

Beauty.AI sendiri menjadi kontes kecantikan internasional pertama yang menggunakan juri robot. Kontes ini akan menggunakan algoritma pengenalan wajah baru yang canggih yang memungkinkan mesin menilai kecantikan dengan cara baru yang disempurnakan. Yang lebih menariknya lagi adalah kontes ini terbuka untuk umum. Namun untuk mengikutinya kamu harus memenuhi beberapa syarat, yakni tidak boleh menggunakan make-up, tidak boleh menggunakan kacamata dan bagi pria tidak boleh berjanggut.

Tujuan Kontes Beauty.AI

Kontes ini sendiri bertujuan menciptakan bagaimana robot menganalisis jumlah perubahan usia terkait pada wajah manusia dan menilai dampaknya pada persepsi dari perubahan orang-orang berdasarkan berbagai umur, ras, etnis dan kebangsaan. Dr. Alex Zhavoronkov, konsultan dari kompetisi yang juga CEO Insilco Medicine, sebuah perusahaan bioformatik yang fokus pada riset penuaan, mengatakan bahwa kemajuan terbaru dalam Deep Learning telah membuat mesin mengenali aspek kecantikan jauh lebih baik dibanding sebelum-sebelumnya.

“Kami mulai dari yang paling sedernaha yaitu kerutan, karena kami sudah memiliki kontak dengan perusahaan-perusahaan kosmetik besar kala itu dan kami tahu produk ini dibutuhkan. Oleh karena itu, mereka meluncurkan aplikasi RYNKL untuk mendeteksi kerutan. Mereka kemudian memutuskan merakit sebuah foto dasar yang dibutuhkan untuk kontes kecantikan”, ujar Dr. Alex Zhavoronkov

Dr. Zhavoronkov juga menambahkan bahwa kontes ini juga diharap bisa memfasilitasi peluncuran sejumlah aplikasi yang akan memungkinkan orang-orang untuk melacak efek dari berbagai macam produk, termasuk kosmetik pada wajah mereka. Salah satunya adalah dengan cepat memungkinkan mereka untuk memahami dampak dari persepsi menggunakan opini tentang algoritma deep-learned yang jujur.

Kontes ini akan digelar setiap setengah tahun sekali dan lebih banyak tim dari seluruh penjuru dunia akan diundang untuk mencoba robot mereka di wajah manusia terkait dengan berbagai parameter lain. Tujuan utama dari kontes ini adalah untuk menemukan sistem rating yang kompleks yang akan mengajarkan pada mesin untuk mengevaluasi manusia yang akan lebih penting untuk membuat robot bisa berlaku lebih mirip dengan manusia dan juga memahami cara-cara manusia.

Skema Algoritma

Penentuan wajah tercantik secara terpisah dilakukan oleh tiga robot, yaitu algoritma RYNKL memperkirakan sejumlah kerutan di wajah peserta dalam kelompok usia mereka, MADIS (Model Alliance Digital Intelligence Scout) membandingkan kesamaan fitur seseorang dengan aktor dan para model ternama, sedangkan algoritma evaluasi simetri menentukan struktur wajah (karena wajah manusia bersifat asimetris).

Konsep algoritma bukan mencari sebuah kemiripan berdasarkan kulit atau tipe wajah banyak aplikasi semacam itu, namun tiap gambar diproses sendiri-sendiri dan merupakan hasil dari faktor biologis spesifik, seperti area kerutan atau titik-titik penuaan. Setelah diseleksi, berhasil lolos 6000 orang peserta yang masuk ke dalam tahap selanjutnya. Kontes ini sendiri disponsori oleh beberapa perusahaan ternama seperti Nvidia, Microsoft, Imagene Labs, Klinikk Oslo, MTI, Cyber Future, Future Technologies, RYNKL Youth Laboratories, Model Alliance dan EY.

Di akhir kontes, algoritma tersebut memilih sepuluh pria dan wanita yang menang di lima kategori usia. Mereka mendapat hadiah dari para sponsor dan bisa menyebut diri mereka sebagai orang-orang tercantik dan tertampan dalam sejarah kecerdasan buatan. Sebagian dari mereka adalah peserta yang memiliki kulit cerah bahkan cenderung putih. Padahal dalam algoritmanya sendiri tidak dimasukkan perintah untuk mengambil yang berkulit terang saja. Untuk bisa mengikuti kontes ini, peserta bisa mengunduh aplikasi Beauty AI di Google PlayStore atau Apple AppStore lalu posting foto di tempat yang telah disediakan di aplikasi tersebut.

Kini perusahaan pemula ini sudah membangun kerja sama dengan klinik swasta Barat dan perusahaan-perusahaan kosmetik besar serta perusahaan riset dari Eropa, AS, Asia dan Afrika. Di masa mendatang, tim berencana mengajarkan komputer menentukan kesehatan seseorang dari wajahnya. Sebagai contoh, lingkaran hitam di bawah mata mengindikasikan masalah ginjal, pigmentasi tak wajar merupakan gejala kanker kulit, bibir pucat dan tak berpigmen merupakan tanda-tanda anemia. Di area ini, perusahaan sudah mulai bernegosiasi dengan jaringan besar klinik swasta di Moskow dan mereka tertarik bahkan mungkin akan membangun aplikasi gabungan untuk mengidentifikasi penyakit.

Demikianlah penjelasan artikel di atas tersebut, pernah kebayang gak ikut kontes kecantikan dengan juri robot? Wah, gimana jadinya ya, namun itulah perkembangan teknologi yang semakin hari semakin canggih. Lama-kelamaan robot akan menggantikan tugas manusia, hebat bukan?