Seperti Moncong Babi, Inilah Spesies Katak Yang Baru Ditemukan

Pasti diantara kalian ada yang takut atau geli melihat katak bukan? Hewan yang hidup di dua alam ini memang tampak sangat menjijikan. Pasalnya katak memiliki tubuh yang lembab. Tak hanya banyak di takuti karena geli dengan bentuk dan struktur badan nya, katak juga ada yang beracun, sehingga kita harus berhati-hati ketika berhadapan dengan spesies yang satu ini. Namun baru-baru ini, para peneliti telah menemukan katak dengan bentuk yang cukup langkah. Nah kira-kira seperti apa spesies langkah ini, Yuk simak ulasan berikut ini.

Spesies Katak

Katak adalah hewan vertebrata yang masuk dalam kelompok amfibi, yaitu hewan yang dapat hidup di dua dunia (air dan darat). Ada tiga kelompok amfibi seperti kadal air dan salamander (Ordo Caudata),caecilian (Ordo Gymnopiona) serta katak dan kodok (Ordo Anura).

Dari sekitar 6.000 spesies amfibi, sekitar 4.380 termasuk dalam Anura. Katak dapat ditemukan di hampir seluruh belahan dunia, seperti samudera, gurun, sungai, hutan dan gurun pasir. Namun sampai saat ini belum pernah ditemukan di wilayah kutub.

Adapun ciri khusus pada hewan ini adalah bernafas dengan paru-paru dan melalui kulit dan gendang telinga katak berada di belakang matanya. Selain itu, ciri khusus katak yang lainnya adalah sebagai berikut:

  • Mata katak

Mata yang berfungsi sebagai indera penglihatan pada katak posisinya menonjol dari tubuhnya. Dengan begitu, kemampuan penglihatan katak sangat baik. Dimana, mata yang seperti itu bisa dimanfaatkan untuk digunakan melihat dan mengetahui keadaan yang ada di sekitar. Karena posisinya yang menonjol, tentu saja bisa melihat ke segala arah.

  • Lidah katak

Katak memiliki lidah yang berada di bagian depan mulutnya yang tentunya berbeda dengan letak lidah yang dimiliki oleh kita sebagai manusia.

  • Hidung katak

Bukan hanya mata saja yang terletak di atas kepalanya, melainkan juga hidungnya. Sehingga ketika katak sedang di dalam air, maka hewan tersebut akan tetap bisa melakukan kegiatan bernafas.

  • Kaki katak

Tahukah kamu jika kaki katak memiliki perbedaan antara yang depan dan belakang? Dimana, kaki belakang pada katak ukurannya lebih panjang dan lebih besar dari kaki depannya. Ukuran kaki belakangnya yang lebih besar, ia gunakan untuk berenang ketika berada di air.

Selain itu, kaki belakangnya juga dimanfaatkan olehnya untuk berlompat dan seperti yang kita ketahui bahwa kemampuan meloncat yang dimiliki oleh katak tak bisa diragukan lagi. Ia mampu melompat jauh hingga bisa mencapai jarak sekitar 20 kali panjang tubuhnya.

Bagaimana membedakan katak jantan dan betina? Katak memiliki telinga yang disebut tympanum. Terletak di belakang mata. Nah, jika telinga lebih besar dari mata maka katak itu jantan. Jika lebih kecil maka katak itu betina. Selain itu, biasanya katak betina berbadan lebih besar dari jantan.

  • Memiliki kelenjar

Pada tubuhnya, katak memiliki sebuah kelenjar. Dimana kelenjar tersebut digunakan untuk memproduksi racun yang tujuannya sebagai alat untuk menjaga diri dan menghindar dari para pemangsanya.

Istilah “katak” dan “kodok” merupakan istilah informal dan tidak mencerminkan adanya perbedaan taksonomi. Secara umum, kodok digunakan untuk menyebut spesies yang memiliki kulit kasar dan berkutil. Sedangkan katak merupakan istilah untuk menyebut pada spesies yang memiliki kulit halus dan lembap.

Katak memakan serangga dan invertebrata lainnya. Beberapa spesies juga memakan hewan-hewan kecil seperti burung, tikus dan ular. Banyak katak menunggu mangsanya untuk mendekat dalam jangkauan untuk kemudian menangkapnya. Beberapa spesies yang lebih aktif akan mengejar mangsanya.

Katak tidak dapat hidup di air asin atau laut. Katak terbesar di dunia adalah “Goliath” yang berasal dari Kamerun, Afrika Barat. Katak terkecil di dunia adalah spesies dari Brazil (Psyllophryne didactyla) yang panjangnya hanya sekitar 1 cm. Kecil banget ya hanya 1 cm?

Katak tidak perlu mengkonsumsi air karena kulit mereka mampu menyerap air. Orang yang khusus mempelajari tentang katak, kodok atau amphibi disebut dengan Herpetologis. Ilmu yang mempelajari tentang amphibi dan reptil adalah Herpetologi.

Secara umum, metamorfosis katak terbagi ke dalam 4 fase, yaitu fase telur, kecebong atau berudu, katak muda dan katak dewasa. Berikut penjelasannya:

  • Fase Telur Katak

Seperti pada metamorfosis kupu-kupu dan semua makhluk hidup yang bermetamorfosis fase pertama adalah telur. Diawali dengan katak jantan yang membuahi sel telur katak betina. Hal ini disebut pembuahan eksternal (fertilisasi eksternal). Kemudian katak betina bertelur dan bentuknya juga tidak sama dengan telur pada umumnya. Bila dilihat dari jauh mirip dengan jelly.

Katak betina yang telah bertelur kemudian meninggalkannya ditempat hewan ini bertelur. Secara alami telur akan tumbuh tanpa sang induk menjaga atau merawatnya. Dalam rentan waktu satu tahun, hewan ini mampu bertelur mecapai 20.000 telur dengan 3 kali reproduksi.

Akan tetapi, pembuahan eksternal ini sangat rawan terjadinya kegagalan. Banyak faktor yang mempengaruhi semisal adanya arus air yang kuat, adanya predator berupa ikan dan gangguan lain. Telur katak akan menetas menjadi larva setelah berusia 21 hari. Selama itu, embrio menggunakan cadangan makanan dari kuning telur untuk pertumbuhan berbagai organ hingga ia siap menetas dan menjadi kecebong.

  • Fase Kecebong

Setelah berkembang selama 21 hari, embrio dalam telur kemudian keluar dari cangkang telur sebagai kecebong atau berudu. Pada tahap awal, berudu umumnya masih akan memakan sisa makanan dari cangkangnya hingga fungsi tubuhnya memungkinkan untuk mencari makan sendiri.

Berudu katak akan melakukan pembentukan organ insang, ekor dan mulut sampai tubuhnya terbentuk sempurna. Berudu memiliki ekor yang panjang untuk menunjang pergerakannya di dalam air, insang ekternal yang digunakan untuk pernapasan dan sebuah mulut yang digunakan sebagai alat makan. Perlu diketahui bahwa fungsi insang pada berudu persis sama seperti insang pada ikan, sementara makanannya pada fase ini adalah ganggang dan mikrorgansime air lainnya.

Pada awalnya insang kecebong berada di permukaan kulitnya. Saat mencapai umur 4 minggu insang akan ditutupi oleh kulit sehingga insang akan masuk ke dalam tubuh dan menghilang perlahan-lahan. Selama 6 minggu, pada proses metamorfosis katak, kecebong akan terus mengalami perubahan fungsi fisiologis hewan dan bentuk morfologi nya.

Kaki belakangnya mulai tumbuh kemudian diikuti pertumbuhan kaki depan. Begitu juga organ dalam, paru-paru mulai berkembang sebelum akhirnya masuk ke tahap selanjutnya menjadi katak muda. Pada masa 6 minggu sampai 9 minggu akan mulai terlihat bentuk kepala dan tubuhnya perlahan mulai memanjang.

Berudu dapat kita temukan dalam beragam warna, bisa hijau, hitam dan bisa pula berwarna merah. Warna berudu ini dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Warna berudu akan menyesuaikan warna lingkungan sekitarnya untuk berkamuflase.

  • Fase Katak Muda

Ketika paru-paru sudah berkembang dengan sempurna, insang akan menghilang dan fungsi fisiologis lainnya juga mengalami perubahan drastis. Sampai akhirnya berubah bentuk menjadi katak muda. Pada umumnya fase katak muda akan berjalan selama 3 minggu dan sampai akhirnya menjadi katak dewasa dan ketika sudah menjadi katak dewasa berarti metamorfosis sudah sempurna.

  • Fase Katak Dewasa

Tepat 11 minggu setelah telur diletakkan oleh induknya, telur katak kini telah tumbuh menjadi katak dewasa. Katak dewasa telah memiliki paru-paru yang berfungsi sebagai alat pernafasan di daratan. Kaki-kakinya tumbuh kuat dan memiliki selaput antara setiap jarinya. Sementara ekornya telah benar-benar hilang dan katak tersebut akan terus berkembang menjadi dewasa dan siap melakukan perkembangbiakan kembali melalui proses pembuahan luar bersama pasangannya untuk memulai proses metamorfosis katak baru.

Spesies Katak Baru

Ilmuwan telah menemukan spesies katak baru yang tidak biasa di sebuah pegunungan Ghats Barat di India. Katak itu memiliki kulit mengkilap dan ungu, dengan lingkaran biru di sekitar matanya serta bagian depan yang runcing dan mirip hidung babi.

Para ilmuwan memberi nama amfibi ini katak ungu Bhupathy (Nasikabatrachus bhupathi), sebagai pengormatan kepada Dr. Subramaniam Bhupathy, ahli herpetologi yang terkemuka yang meninggal di Ghat Barat pada 2014 lalu.

Jenis amfibi ini memang tampak aneh dan merupakan hasil dari evolusi bertahun-tahun yang tak terhitung jumlahnya. Mata kecil, moncong panjang dan tungkai pendek yang keras memungkinkan katak jenis ini menghabiskan hampir seluruh hidupnya di bawah tanah.

Faktanya, amfibi ini bahkan tidak keluar ke permukaan tanah untuk makan. Mereka menggunakan lidah panjang untuk mengisap semut dan rayap di bawah tanah. Garis keturunan katak ini sangat kuno dan memiliki keanekaragaman yang sangat terbatas, jadi temuan ini sangat spesial dan tidak biasa.

Katak ungu Bhupathy ini merupakan spesies yang hampir sama dengan katak ungu (N. sahyadrensis)yang juga ditemukan di wilayah tersebut pada tahun 2003. Hingga saat ini, hanya dua spesies inilah yang diketahui sebagai anggota dari famili itu.

Sebuah penelitian menyebutkan bahwa ada satu hal yang bisa membujuk katak ungu untuk keluar dari liang atau tempat persembunyian mereka. Ada satu hal yang bisa membujuk katak ungu untuk keluar dari liang mereka. Jantan kemudian akan kawin dengan betina di situ dan menyimpan telur yang telah dibuahi. Lalu setelah satu atau dua hari, telur menetas dan menjadi kecebong.

Tak seperti berudu dari kebanyakan spesies katak lain yang menghabiskan waktu berenang di genangan air atau kolam yang tenang, berudu dari katak ungu Bhupathy menghabiskan waktu sekitar 120 hari di aliran air deras. kecebong katak ungu mengembangkan mulut mereka menyerupai ikan penghisap. Kecebong menggunakan mulut aneh mereka untuk menempel di batu di balik air terjun yang tercipta oleh hujan lebat. Mereka kemudian memakan rumput dengan gigi mungil mereka.

Penemuan katak ungu ini juga merupakan bukti bagaimana menakjubkannya katak dalam beradaptasi. Jodi Rowley, ahli biologi amfibi di Museum Australia dan National Geographic Explorer mengungkapkan bahwa ada spesies katak di seluruh dunia yang bisa bersembunyi untuk mengindari kekeringan. Tetapi katak ungu Bhupathy telah mengadopsi gaya hidup ini hingga ke tingkat yang ekstrem dengan tinggal di bawah tanah hampir secara permanen.

Secara keseluruhan, spesies baru ini menunjukkan betapa sedikit yang masih kita ketahui tentang kodok pada umumnya. Meskipun menjadi salah satu kelompok hewan yang paling terancam di planet ini, dengan 42% dari semua spesies yang diketahui terancam punah, kita masih belum tahu berapa banyak spesies katak dan amfibi lainnya.

Ya begitulah kurang lebih penjelasan mengenai katak di atas tersebut ya. Semoga ulasan di atas sedikitnya sudah menambah wawasan kalian semua..